Cerita Umi Bakrie

Kalau Iwan Fals mempopulerkan nama Umar Bakrie berhubung perempuan ya saya menjuluki diri sendiri sebagai Umi Bakrie saja. Tak terasa hampir 15 tahun jadi Umi Bakrie dan alhamdulillah rasa-rasanya hidup saya tidak separah kisah pak Umar. Weblog ini meneruskan cerita saya dari Australia saat cuti kerja dari Umi Bakrie dan menjadi mahasiswa. Peringatan: Apa yang tertulis merupakan pandangan dan pendapat pribadi, tidak mencerminkan lembaga tempat saya bekerja.

My Photo
Name: Mirza Kusrini
Location: Townsville, Queensland, Australia

Ibu rumah tangga yang di Indonesia nyambi jadi pengajar dan di Australia berubah jadi pelajar. Blogs ini berisi cerita sehari-hari keluarga, terutama pengalaman jalan-jalan selama tinggal di Australia. Apa yang tertulis merupakan pendapat pribadi, tidak mencerminkan kantor ataupun universitas tempat belajar.

Saturday, July 26, 2008

PASAR


Sabtu pagi yang malas. Mengingatkan pada sabtu beberapa waktu yang lalu. Saat itu sayup-sayup terdengar suara penyiar dari radio yang terpasang: “Sabtu pagi setelah libur lebaran, rasanya masih malas kemana-mana. Kalau selama ini kita terbiasa dimanjakan dengan segala kemudahan belanja di supermarket dan hypermart. Bagaimana kalau pagi ini mencoba suatu yang lain, misalkan ke pasar tradisional? Pastinya banyak pengalaman menarik yang akan diperoleh”. Kontan saya mesem-mesem sendiri.

Namanya perempuan, belanja bisa jadi salah satu kegiatan favorit. Salah satu teman saya ada yang semangat sekali dalam hal belanja berbelanja. Apalagi kalau ada iklan potongan sekian persen dari berbagai department store. Wah, pastinya dipaksa-paksain untuk menyisihkan waktu untuk mengunjungi biang pengiklan itu. Konyolnya, salah satu alasan favorit dia untuk belanja adalah, “ Lho, gue dikasih duit sama suami. Kalau nggak dihabisin ntar nggak bisa minta lagi. Daripada duitnya dia jatuh ke orang lain, mendingan jatuh ke gue … iya ngak?” Padahal, kalau dipikir-pikir, duit yang jatuh ke dia itu ya habis juga didistribusikan ke orang lain … ya via belanja itu!

Kembali ke pasar tradisional. Pulang dari Australia awal tahun 2005 silam, saya kangen banget ingin belanja ke Pasar Bogor, salah satu pasar tradisional di kota hujan tempat tinggal kini. Sama seperti yang diutarakan rayuan maut penyiar radio, saya ingin merasakan pengalaman yang lain. Jadi, pagi-pagi di hari Sabtu saya pun bersiap-siap ke Pasar. Menggunakan sandal jepit dan berbekalkan tas kain untuk menaruh belanjaan, siaplah saya meluncur ke pasar. Tidak perlu naik mobil, macet … jadi naik angkot (angkutan kota saja). Karena anak perempuan saya yang kecil ingin ikut, saya ajak dia. Persis deh seperti iklan salah satu merek sabun mandi, biar anak dapat pengalaman baru.

Pasar sayur dan daging di Pasar Bogor terletak di dalam sebuah gedung bertingkat, di bagian bawah. Di atasnya ada kios-kios yang menjual beras dan barang kelontong. Karena di dalam gedung, maka lantainya keramik. Ingatan saya, dulu (sebelum berangkat ke Australia 4 tahun silam) lumayan bersih. Apa dikata, karena baru saja hujan kemarin malam maka jalanan – yang campuran aspal bergeropak dan lumpur - di luar pasar itu becek. Waduh, saya mulai deh menyesal pakai sandal jepit. Celana panjang bagian belakang sudah penuh bercak-bercak tanah coklat. Apalagi anak saya sudah mulai seret untuk maju. Wong, biasanya dibawa ke pasar tradisional di Australia yang bersih tiba-tiba harus masuk ke dalam suatu tempat yang becek. Walaupun wajahnya mulai memanjang, saya paksakan untuk masuk. Nah, pasar itu letaknya agak lebih di bawah dari jalan raya. Jadi air yang ada di dalam jalan raya ternyata bisa ikut mengalir ke dalam pasar.

Walaupun dari bagian depan saja bentuk pasar sudah menunjukkan tanda-tanda becek dan penuh sesak, tapi dengan gagah berani saya tetap masuk ke dalam pasar. Pasar ramai sesak bukan oleh pedagang saja, tapi juga oleh para pembeli. Lorong-lorong antar kios rasanya bertambah sempit. Apalagi beberapa tukang sayur rupanya membersihkan sayur di dekat kios mereka. Jadinya di lorong banyak tumpukan sampah sayuran semisal bagian kol terluar, kulit luar kacang merah dan pelepah jagung. Alhasil, bau-bau sampah organik sangat kental terasa di dalam. Injak sana-injak sini, sikut sana-sikut sini, bisa juga saya sampai di depan kios yang menjual tahu di bagian agak dalam. Setelah membayar, rencananya mau dilanjutkan membeli sayur. Belum beberapa langkah tiba-tiba nafas terasa sesak, rasanya pengap sekali dan keringat dingin membanjiri tubuh. Waduh … ini tanda-tanda buruk, saya perlu oksigen! Langsung dengan cepat saya tarik anak saya dan dengan agak sempoyong berjalan keluar dari pasar. Sesampainya di luar saya langsung menghirup udara segar dan pelan-pelan rasa sesak hilang. Muka saya yang pucat perlahan-lahan mulai berwarna.

Sejak saat itu, saya agak trauma ke pasar Bogor. Setiap kali bercita-cita ke pasar, anakku dengan lantang mengingatkan “ Ma … awas lho nanti kejadian mau pingsan lagi…!” Wah, urung deh. Akhirnya kalaupun ke pasar, paling hanya berani beli buah yang tempatnya memang di luar gedung pasar. Biar rada becek tapi oksigen mengalir lancar. Urusan sayur: ya balik lagi ke Hypermart atau tunggu tukang sayur aja deh yang tiap pagi lewat.

Aduh … kapan ya bisa ke pasar tradisional yang ciamik! Nggak bikin pusing dan nyaman. Seperti pasar yang ada di foto ini. Memang jauh sih, di London. Alamak … nyaman dan tak bau!

Friday, December 21, 2007

SELAMAT TAHUN BARU: Tribute for those who had enriched my life

People sometimes put their milestone on New Year’s Eve. I put mine on the New Year Eve and on the celebration day of marking the end of fasting month or Ramadhan (Lebaran - , surely it is not a word based on Arabic, more likely coming from Javanese). The first, in term of career or professional development and the latter usually to rethink my personal experience. For me, both times is great time to review what I had done all year: What gained, what lost, regret, failure, success, next step, etc. Granted, the year between lebaran it is not the same length like the usual year we use nowadays (that’s why several years ago we experience 2 Ramadhan in a year), however, knowing that a year has passed you by surely worth for a stop and re-think the way you are planning to walk.

Lebaran is a time for family, just like Christmas for the Christian, it is also reunion time – a once in a year meeting with extended family members with whom you will not see again until the next lebaran (if you are still around of course) and remembering family members who has passed away especially the one who had gone recently. It is a day for prayer and time to put aside differences and sit together in civilized manner in the table although sometimes it happens just for the sake of the elder. This year, I remember my sister in-law who has passed away early this year of cancer, my uncle who passed away not long after the 2006’s Lebaran (oddly, although he was healthy at the time he did said that he was not certain that there will be other lebaran for him), my far-niece who died the beginning of this ramadhan and also one of my best teacher in high school, Ibu Asnur, who passed away couple months ago because of cancer. Not long after lebaran, my brother in-law passed away after a year of suffering intestine cancer. He was a fighter and courageous man, who had battled his brain cancer nearly ten years ago.

This end of year, I will also remember the student I lost this year whom mistakes had broken my heart. As a teacher, it is always a mixed feeling to see your students finished their study. Most of the time, you think of them with glowing pride with their achievement, although a bit sad to know that you will probably never see them again. Sometimes, one or two stopped for awhile to help with your projects before spreading their wings for future career. However, in rare occasions there is regret when someone failed to achieve as happened with one of my former student. Until this moment, it saddened me that I had to be the one who pointed out the mistakes and lacks of judgments, and told her to take responsibility for it. BUT I ask not forgiveness for my action, as bad as some people might think it was, it was an deed that might prevent other misconduct in the future and hopefully the experience itself it serve as reminder for her (and also for me).

What’s in 2008? I don’t know! What I know is I’ll always try my best even in rough times. Selamat Tahun Baru – Happy New Year – to you all.