Cerita Umi Bakrie

Kalau Iwan Fals mempopulerkan nama Umar Bakrie berhubung perempuan ya saya menjuluki diri sendiri sebagai Umi Bakrie saja. Tak terasa hampir 15 tahun jadi Umi Bakrie dan alhamdulillah rasa-rasanya hidup saya tidak separah kisah pak Umar. Weblog ini meneruskan cerita saya dari Australia saat cuti kerja dari Umi Bakrie dan menjadi mahasiswa. Peringatan: Apa yang tertulis merupakan pandangan dan pendapat pribadi, tidak mencerminkan lembaga tempat saya bekerja.

My Photo
Name: Mirza Kusrini
Location: Townsville, Queensland, Australia

Ibu rumah tangga yang di Indonesia nyambi jadi pengajar dan di Australia berubah jadi pelajar. Blogs ini berisi cerita sehari-hari keluarga, terutama pengalaman jalan-jalan selama tinggal di Australia. Apa yang tertulis merupakan pendapat pribadi, tidak mencerminkan kantor ataupun universitas tempat belajar.

Friday, November 27, 2009

TURIS ABIDIN

Kalau rajin baca majalah atau nonton TV tentang acara jalan-jalan biasanya menggambarkan dua kutub berbeda. Ada pelancong dengan biaya murah meriah sambil nenteng ransel alias backpackers atau pelancong bergengsi dengan fasilitas penginapan, makanan, rekreasi, dll yang serba ter-aduhai punya. Sebenarnya ada satu lagi lho kategori turis, yaitu turis abidin alias atas biaya dinas.

Pergi ke luar negeri (LN) bisa jadi idaman banyak orang. Segelintir orang memiliki ’keberuntungan’ untuk ke LN tanpa biaya sendiri. Nah sembari tugas, kalau ada waktu kenapa tidak sekalian jadi turis abidin. Jadi turis abidin ini lumayan unik. Pastinya, tiket menuju negara tujuan pp gratis karena dibayari, begitu juga dengan fasilitas penginapan dan konsumsi selama menjalankan tugas. Biasanya, kalau diundang khusus, fasilitas yang didapat lumayan nyamanlah. Namun setelah tugas usai, usai juga fasilitas yang didapat.

Perjalanan dinas tidak selalu berarti dibiayai kantor atau Negara. Bagi para pekerja di kantor pemerintahan misalnya departemen teknis, atau orang-orang terhormat di dewan perwakilan itu (ehm) biasanya tugas ke luar negeri disambut sukacita. Soalnya berbekal SPJ dan standar uang harian yang dikeluarkan Bapenas, pulang dari LN bisa bawa oleh-oleh dan tabungan. Lain hal bagi PNS di sektor pendidikan. Biasanya undangan ke LN diperoleh dari lembaga atau universitas di LN untuk memberikan presentasi atau pendapat mengenai satu hal atau mengikuti seminar. Dana yang diberikan biasanya pas alias mepet, malah seringkali nombok buat ongkos lokal atau beli oleh-oleh. Setelah beberapa kali mengalami kejadian seperti ini, saya sekarang tahu diri kalau ada temen yang ke LN buat seminar. Nggak pernah deh tega minta oleh-oleh hehe ....

Sayangnya, jatah jadi tamu khusus ini terbatas. Selain itu, waktu benar-benar habis untuk bekerja sehingga acara jalan-jalan biasanya sangat sempit dan seringkali harus curi-curi waktu setelah usai pertemuan. Asal jangan lupa daratan dan 'kabur' dari tugas pokok lho!

Pergi dengan waktu dan dana yang mepet tidak berarti tidak bisa menikmati negara tujuan. Walaupun dari pagi sampai sore sibuk, kadang-kadang pula masih harus diisi dengan acara makan malam dengan tuan rumah, kesempatan kecil untuk melihat selalu ada. Biasakan bangun pagi. Setelah makan pagi langsung keluar hotel untuk jalan-jalan di sekitar (sukur-sukur di tengah kota) sebelum rapat atau seminar dimulai jam 9. Hal serupa bisa dilakukan saat istirahat makan siang, atau sore/malam hari setelah pertemuan selesai.

Kunci menikmati perjalanan dari turis abidin yang mepet adalah bisa menemukan tempat makan dan menginap yang murah meriah tapi aman. Biasanya begitu tiba di suatu negara, yang pertama saya cari adalah supermarket besar di dekat penginapan. Di berbagai negara besar, supermarket menjual juga makanan jadi (seperti di Giant atau Carrefour di kota besar Indonesia). Untuk menghemat dan tidak stres dengan menu asing, saya biasa beli makanan jadi di supermarket berikut buah, air mineral dan jajanan kecil. Di supermarket ini juga banyak jajanan lokal yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh dengan biaya lebih murah daripada di toko turis.

Jika masih punya dana, mungkin bisa juga mengambil tambahan 1-2 hari setelah pertemuan untuk khusus melihat-lihat. Jaman sekarang, bila ada seminar seringkali pihak event organizernya menawarkan paket wisata setelah seminar selesai. Kadang-kadang memang masih mahal, jadi bisa saja kita memutuskan untuk melancong sendirian. Sekali lagi, kalau dana mepet mungkin ya harus ‘turun pangkat’ sedikit. Kalau tadinya dikasih hotel bintang 4, ya kalau terpaksa jadi kelas melati asal aman dan bersih kan nggak apa-apa. Sukur-sukur punya kenalan yang baik hati kasih tumpangan untuk bermalam gratis. Pastinya, jadi turis abidin memang harus legowo ... nggak boleh ngotot mau melihat segala macam… wong waktunya mepet! Walau serba mepet, lumayan juga sekilas bisa menikmati suasana negara tujuan.

Labels:

Saturday, July 26, 2008

PASAR


Sabtu pagi yang malas. Mengingatkan pada sabtu beberapa waktu yang lalu. Saat itu sayup-sayup terdengar suara penyiar dari radio yang terpasang: “Sabtu pagi setelah libur lebaran, rasanya masih malas kemana-mana. Kalau selama ini kita terbiasa dimanjakan dengan segala kemudahan belanja di supermarket dan hypermart. Bagaimana kalau pagi ini mencoba suatu yang lain, misalkan ke pasar tradisional? Pastinya banyak pengalaman menarik yang akan diperoleh”. Kontan saya mesem-mesem sendiri.

Namanya perempuan, belanja bisa jadi salah satu kegiatan favorit. Salah satu teman saya ada yang semangat sekali dalam hal belanja berbelanja. Apalagi kalau ada iklan potongan sekian persen dari berbagai department store. Wah, pastinya dipaksa-paksain untuk menyisihkan waktu untuk mengunjungi biang pengiklan itu. Konyolnya, salah satu alasan favorit dia untuk belanja adalah, “ Lho, gue dikasih duit sama suami. Kalau nggak dihabisin ntar nggak bisa minta lagi. Daripada duitnya dia jatuh ke orang lain, mendingan jatuh ke gue … iya ngak?” Padahal, kalau dipikir-pikir, duit yang jatuh ke dia itu ya habis juga didistribusikan ke orang lain … ya via belanja itu!

Kembali ke pasar tradisional. Pulang dari Australia awal tahun 2005 silam, saya kangen banget ingin belanja ke Pasar Bogor, salah satu pasar tradisional di kota hujan tempat tinggal kini. Sama seperti yang diutarakan rayuan maut penyiar radio, saya ingin merasakan pengalaman yang lain. Jadi, pagi-pagi di hari Sabtu saya pun bersiap-siap ke Pasar. Menggunakan sandal jepit dan berbekalkan tas kain untuk menaruh belanjaan, siaplah saya meluncur ke pasar. Tidak perlu naik mobil, macet … jadi naik angkot (angkutan kota saja). Karena anak perempuan saya yang kecil ingin ikut, saya ajak dia. Persis deh seperti iklan salah satu merek sabun mandi, biar anak dapat pengalaman baru.

Pasar sayur dan daging di Pasar Bogor terletak di dalam sebuah gedung bertingkat, di bagian bawah. Di atasnya ada kios-kios yang menjual beras dan barang kelontong. Karena di dalam gedung, maka lantainya keramik. Ingatan saya, dulu (sebelum berangkat ke Australia 4 tahun silam) lumayan bersih. Apa dikata, karena baru saja hujan kemarin malam maka jalanan – yang campuran aspal bergeropak dan lumpur - di luar pasar itu becek. Waduh, saya mulai deh menyesal pakai sandal jepit. Celana panjang bagian belakang sudah penuh bercak-bercak tanah coklat. Apalagi anak saya sudah mulai seret untuk maju. Wong, biasanya dibawa ke pasar tradisional di Australia yang bersih tiba-tiba harus masuk ke dalam suatu tempat yang becek. Walaupun wajahnya mulai memanjang, saya paksakan untuk masuk. Nah, pasar itu letaknya agak lebih di bawah dari jalan raya. Jadi air yang ada di dalam jalan raya ternyata bisa ikut mengalir ke dalam pasar.

Walaupun dari bagian depan saja bentuk pasar sudah menunjukkan tanda-tanda becek dan penuh sesak, tapi dengan gagah berani saya tetap masuk ke dalam pasar. Pasar ramai sesak bukan oleh pedagang saja, tapi juga oleh para pembeli. Lorong-lorong antar kios rasanya bertambah sempit. Apalagi beberapa tukang sayur rupanya membersihkan sayur di dekat kios mereka. Jadinya di lorong banyak tumpukan sampah sayuran semisal bagian kol terluar, kulit luar kacang merah dan pelepah jagung. Alhasil, bau-bau sampah organik sangat kental terasa di dalam. Injak sana-injak sini, sikut sana-sikut sini, bisa juga saya sampai di depan kios yang menjual tahu di bagian agak dalam. Setelah membayar, rencananya mau dilanjutkan membeli sayur. Belum beberapa langkah tiba-tiba nafas terasa sesak, rasanya pengap sekali dan keringat dingin membanjiri tubuh. Waduh … ini tanda-tanda buruk, saya perlu oksigen! Langsung dengan cepat saya tarik anak saya dan dengan agak sempoyong berjalan keluar dari pasar. Sesampainya di luar saya langsung menghirup udara segar dan pelan-pelan rasa sesak hilang. Muka saya yang pucat perlahan-lahan mulai berwarna.

Sejak saat itu, saya agak trauma ke pasar Bogor. Setiap kali bercita-cita ke pasar, anakku dengan lantang mengingatkan “ Ma … awas lho nanti kejadian mau pingsan lagi…!” Wah, urung deh. Akhirnya kalaupun ke pasar, paling hanya berani beli buah yang tempatnya memang di luar gedung pasar. Biar rada becek tapi oksigen mengalir lancar. Urusan sayur: ya balik lagi ke Hypermart atau tunggu tukang sayur aja deh yang tiap pagi lewat.

Aduh … kapan ya bisa ke pasar tradisional yang ciamik! Nggak bikin pusing dan nyaman. Seperti pasar yang ada di foto ini. Memang jauh sih, di London. Alamak … nyaman dan tak bau!