Saturday, September 17, 2016

DIPLOMASI DUREN

Cerita ini sebenarnya sudah dikeluarkan dalam fb saya, tapi anak saya mengingatkan untuk mengisi cerita di dalam blog ini (yang terlupakan beberapa tahun). Jadi, secara bertahap saya kirmkan lagi tulisan yang berserakan dalam fb.

-----------------------

Tiba-tiba saja “rumah Indonesia” dikejutkan dengan kehadiran seorang peserta konferensi yang membawa sebuah duren di tangannya. Bau duren yang khas segera memenuhi area pavilion yang tidak besar itu. Otomatis beberapa kepala berambut hitam langsung berputar dengan hidung mengendus-endus udara. Duren di Hawai’i?! Bagai magnet, orang-orang yang tadinya sibuk berbicara satu sama lain langsung mengerubungi duren yang dipegang oleh seorang bapak kulit putih yang fasih berbahasa Indonesia. Orang itu, pak Mashuri (ya namanya memang sangat Indonesia karena dia besar di Indonesia bahkan menikah dengan orang Indonesia), kemudian mengatakan bahwa duren yang dipegangnya berasal dari kebun pak Daniel. Duren itu dikirim sebagai ucapan selamat datang bagi orang Indonesia. Kontan “rumah Indonesia’ riuh rendah dengan para pemburu duren….beberapa orang bukan dari Indonesia pun ikut ramai datang karena penasaran. Daniel tidak memberi satu saja, tapi dua buah dan mengundang kami untuk datang ke kebunnya memanen duren.

Duren di Rumah Indonesia menjadi primadona. 


Pada akhir kongres, delegasi Indonesia yang tersisa kemudian berkunjung ke rumah pak Daniel di lembah Manoa. Walaupun usianya sudah 65 tahun, pak Daniel benar-benar sosok yang bersemangat dengan gayanya yang menunjukkan “jiwa bebas” - gabungan antara nyentrik dengan gypsi. Beberapa kali ke Indonesia, beliau berteman akrab dengan beberapa orang Indonesia yang cukup ternama seperti Aristide Katoppo dan keluarga Jelantik. Pak Daniel yang aslinya adalah dokter medis, sudah tinggal lebih dari 30 tahun di rumahnya yang bak benteng petualang di dalam hutan. Rumah utamanya memang tidak istimewa dari depan, tapi ketika masuk, kita akan disuguhkan pemandangan rumah pohon yang berada di atas pohon beringin berusia lebih dari 32 tahun.

Susah untuk menjelaskan bagaimana menakjubkannya rumah pohon yang bak keluar dari buku cerita anak-anak. Paling tidak ada tiga jembatan kanopi yang membentang menghubungkan rumah utama dengan rumah pohon, dimana terdapat teras-teras terbuka dan jala-jala hammock serta kursi gantung dreamcatcher yang indah tapi perlu nyali untuk mendudukinya. Beberapa sudut malah menjadi tempat tinggal beberapa mahasiswa dari Universitas Hawaii Manoa, dimana mereka menaruh tempat tidur dan kelambu. Pak Daniel memang filantropis, karena rajin memberikan beasiswa kepada berbagai orang muda, termasuk dari Indonesia.

Tiga jembatan kanopi yang ada dibuat berdasarkan pertumbuhan pohon beringin. Jembatan terbawah adalah saat pohon beringin masih muda, sedangkan jembatan teratas adalah jembatan terbaru yang menunjukkan pertumbuhan pohon itu. Bisa dibilang rumah pohon ini tidak pernah selesai karena secara organik terus berevolusi sesuai pertumbuhannya. Dari atas rumah ini, kita bisa memandang ke arah pantai Waikiki dengan gedung-gedung pencakar langitnya.

Tanpa rasa takut dan cekatan, Daniel turun naik tangga, melintasi jembatan-jembatan dengan tali untuk memandu kami melihat rumah pohon dan juga kolam (yang paling tidak habitat dari 10 jenis katak) dan tentu saja pohon duren. Paling tidak ada 5 duren jatuhan yang sudah siap di meja, ditambah dengn alpukat, jambu cherry, belimbing dan sukun. Pembicaraan makin hangat dengan hadirnya beberapa tamu yang beberapa diantaranya adalah peserta kongres. Ternyata pak Daniel juga mengundang beberapa orang lain yang berasal dari LSM lokal yang mendukung kongress IUCN di Hawaii. Mereka pun membawa berbagai buah tangan, seperti yang dilakukan pak Steven yang membawa sarang madu, mead dari madu, dan buah-buahan unik dari kebunnya. Hujan turun tidak mengurangi kehangatan pertemuan ini.

Kunjungan seru ke rumah pohon pak Daniel di lembah Manoa sambil meinikmati matahari terbenam
Sungguh ini pesta penutup tidak resmi yang paling mengesankan dari kegiatan kongres IUCN. Terimakasih pak Daniel, pak Mashuri dan para Hawaii’an atas keramahtamahannya. Sungguh, duren itu ternyata menyatukan!

Tuesday, April 23, 2013

LOMBOK’S SCENIC OCEAN DRIVE-2


Senggigi – Bangsal – Senaru – Labuhan Lombok – Mataram - Senggigi

Forest, rice fields and ocean; the vew from Senaru (top); Senaru waterfalls (bottom)
Having been satisfied with our experience of the short drive the day before, we then decided to travel much further from Bangsal to North Lombok, and turn back to Senggigi trough East and Central Lombok. Looking at the map, we expected that ¾ part of the route will pass another oceanic view. Nano is hoping to be able to see the Mount Rinjani along the way and stop a little bit in Senaru. We are not disappointed. Even though a light drizzle greeted us and most of view of Mount Rinjani were obstructed by thick clouds - plus of course were short on time to do the waterfall walk - at least we were able to enjoy a nice view of Senaru waterfalls while taking lunch in a nearby restaurant. I wonder the kind of frogs they have out here. Not much report on Lombok’s herpetofauna, it looks like a good place to do some herping stuff. Wish I got time!

Dry riverbed on the way to Obel-obel
The road from Senaru to Labuhan was narrow and winding with other oceanic views. Mount Rinjani is an active volcano and in several areas we have to pass a wide bridge which crossed dry beds of cold lava flow from this mountain.  Kids herding cows were seen along the road so we have to drive slowly. Looking at healthy cows along the road from Senggigi, we were wondering about Indonesian beef problem. Are we really short of local beef?

Young boy herding cows
Down the road we stopped at Obel-Obel Beach to drink coconut from one of the many traditional roadside shops (or warung) in the beachside. What we like about Coconut in Lombok is they are huge (I can’t finished one by myself) and very cheap (only Rp 7000 in Obel-Obel).  After Obel-obel we keep on driving so we will be able to finish the oceanic drive before sunset. A view of two other Gilis’ was seen from Koloh Sepang and Dasan Baru: Gili Lawang and Gili Sulat are two of the Gili in the North East of Lombok. Further down after Sambelia, three other Gilis were seen: the Gili Petangan and the other small Gilis of Pasaran and Lampu. These five Gilis are mostly uninhabited and not yet developed as the other three famous Gilis off Bangsal.




Smooth road

The sign tell itself, coconut warung at Obel-obel beach
Welcome to Obel-obel
Aptly named: Ray of Hope
Just before Labuhan, I guess it must be around Aik Manis a glimpse of Ferry to Sumbawa was seen between the rows of coconut palms trees. The sight in the right side is also astonishing, a small plantation of old kapok trees. I still feel regret that we did not take the pictures of that kapok trees. They were so tall with huge buttresses. The one in our campus in Baranangsiang, Bogor seems small compared to this one. Hope that the owner does not decide to chop them off in the future. They were beautiful!


Busy market near Labuhan
The feel of the road from Labuhan through the central Lombok is different. We passed a busy evening market near Labuhan and afterwards most of the traffic is crowded. It was already dark when we pass through the central Lombok, thus we can’t say that we see anything interesting. We do hope that someday we will able to take our time in Lombok and enjoy more of the panoramic view of this scenic drive. 

Dusk coming to Lombok

As we noted along the road, most of the land along the coast have been bought by various resorts. It is inevitable that Lombok will be developed as one of the future top tourist destination in Indonesia. I hope the local government has the will to pass regulation that any building along the coast must not obstruct the oceanic view since the beauty of the Island should be enjoyed by all. However, you never know with government. So while the view is still gorgeous, take your time while in Lombok and enjoy the drive!